Skip to main content

Hidradenitis Supuratif / Penyakit Kulit

Hidradenitis supuratif atau disebut juga akne inversa adalah peradangan kronis dan supuratif pada kelenjar apokrin. Penyakit ini terdapat pada usia pubertas sampai usia dewasa muda. Prevalensi keseluruhan adalah sekitar 1%. Rasio wanita terhadap pria adalah 3:1. Dari beberapa penelitian epidemiologi diketahui bahwa sepertiga pasien hidradenitis supuratif memiliki kerabat dengan hidradenitis. 
Merokok dan obesitas merupakan faktor risiko untuk penyakit ini. Penyakit ini juga sering didahului oleh trauma atau mikrotrauma, misalnya banyak keringat, pemakaian deodorant atau rambut ketiak digunting.
Beberapa bakteri telah diidentifikasi dalam kultur yang diambil dari lesi hidradenitis supuratif, diantaranya adalah Streptococcusviridans, Staphylococcus aureus, bakteri anaerob (Peptostreptococcus spesies, Bacteroi desmelanino genicus, dan Bacteroides corrodens), Coryne formbacteria, dan batang Gram-negatif.

Masalah Kesehatan
Hidradenitis Supuratif
No. ICPC-2 : S92 Sweat gland disease
No. ICD-10 : L73.2 Hidradenitis suppurativa
Tingkat Kemampuan : 4A

Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan awal yang dirasakan pasien adalah gatal, eritema, dan hiperhidrosis lokal. Tanpa pengobatan penyakit ini dapat berkembang dan pasien merasakan nyeri di lesi.

Faktor Risiko
Merokok, obesitas, banyak berkeringat, pemakaian deodorant, menggunting rambut ketiak

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
  • Ruam berupa nodus dengan tanda-tanda peradangan akut, kemudian dapat melunak menjadi abses, dan memecah membentuk fistula dan disebut hidradenitis supuratif. 
  • Pada yang menahun dapat terbentuk abses, fistel, dan sinus yang multipel. 
  • Terdapat leukositosis.
  • Lokasi predileksi di aksila, lipat paha, gluteal, perineum dan daerah payudara. Meskipun penyakit ini di aksila seringkali ringan, di perianal sering progresif dan berulang.

Ada dua sistem klasifikasi untuk menentukan keparahan hidradenitis supuratif, yaitu dengan sistem klasifikasi Hurley dan Sartorius.
Hurley mengklasifikasikan pasien menjadi tiga kelompok berdasarkan adanya dan luasnya jaringan parutdan sinus.
  1. Tahap I : lesi soliter atau multipel, ditandai dengan pembentukan abses tanpa saluran sinus atau jaringan parut.
  2. Tahap II :lesi single atau multipel dengan abses berulang, ditandai dengan pembentukan saluran sinus dan jaringan parut.
  3. Tahap III: tahap yang paling parah, beberapa saluran saling berhubungan dan abses melibatkan seluruh daerah anatomi(misalnya ketiak atau pangkal paha).

Skor Sartorius
  • Skor didapatkan dengan menghitung jumlah lesi kulit dan tingkat keterlibatan di setiap lokasi anatomi. 
  • Lesi yang lebih parah seperti fistula diberikan skor yang lebih tinggi daripada lesi ringan seperti abses. 
  • Skor dari semua lokasi anatomi ditambahkan untuk mendapatkan skor total.

Hidradenitis supuratif

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah lengkap

Penegakan Diagnostik (Assessment)
Diagnosis Klinis
Ditegakkan ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaaan fisik.

Diagnosis Banding
Furunkel, karbunkel, kista epidermoid atau kista dermoid , Erisipelas, Granuloma inguinal, Lymphogranuloma venereum, Skrofuloderma

Komplikasi
  1. Jaringan parut di lokasi lesi.
  2. Inflamasi kronis pada genitofemoral dapat menyebabkan striktur di anus, uretra atau rektum.
  3. Fistula uretra.
  4. Edema genital yangdapat menyebabkangangguan fungsional.
  5. Karsinoma sel skuamosa dapat berkembangpada pasiendenganriwayat penyakit yang lama, namun jarang terjadi.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
Jika telah terbentuk abses, dilakukan insisi.
Pengobatan oral:
Antibiotik sistemik
Antibiotik sistemik misalnya dengan:  
  • kombinasi rifampisin 600mg sehari(dalam dosis tunggalataudosis terbagi) dan klindamisin 300mg dua kali sehari menunjukkan hasil pengobatan yang menjanjikan. 
  • Dapson dengan dosis 50-150mg/hari sebagai monoterapi, 
  • Eritromisin atau tetrasiklin 250-500 mg 4xsehari, 
  • Doksisilin 100 mg 2xsehari selama 7-14 hari.

Kortikosteroid sistemik
Kortikosteroid sistemik misalnya triamsinolon, prednisolon atau prednison

Konseling dan Edukasi
Edukasi dilakukan terhadap pasien, yaitu berupa:
  1. Mengurangi berat badan untuk pasien obesitas.
  2. Berhenti merokok.
  3. Tidak mencukur di kulit yang berjerawat karena mencukur dapat mengiritasi kulit.
  4. Menjaga kebersihan kulit.
  5. Mengenakan pakaian yang longgar untuk mengurangi gesekan
  6. Mandi dengan menggunakan sabun dan antiseptik atau antiperspirant.

Kriteria Rujukan
Pasien dirujuk apabila penyakit tidak sembuh dengan pengobatan oral atau lesi kambuh setelah dilakukan insisi dan drainase.

Peralatan
Bisturi

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, tingkat keparahan penyakit bervariasi dari satu pasien dengan pasien lainnya.

Referensi
  1. Alhusayen, R. & Shear, N. H. 2012. Pharmacologic Interventions For Hidradenitis Suppurativa. American Journal Of Clinical Dermatology, 13,pp 283-91. Available from http://search.proquest.com/docview/1030722679/fulltextPDF/2D2BD7905F304E87PQ/6?accountid=17242#(7 Juni 2014).
  2. American Academy of Dermatology. Hidradenitis suppurativa. Available from http://www.aad.org/dermatology-a-to-z/diseases-and-treatments/e---h/hidradenitis-suppurativa(7 Juni 2014).
  3. Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2013. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  4. Herrington, S. (2007). Hidradenitis suppurativa. In M. R. Dambro (Ed.), Griffith’s 5 minute clinical consult.14th Ed. Philadelphia. Lippincott Williams and Wilkins, pp. 570–572.
  5. Jovanovic, M. 2014. Hidradenitis suppurativa. Medscape. June 7, 2014. http://emedicine.medscape.com/article/1073117-overview.
  6. Sartorius, K., Emtestam, L., Lapins, J. & Johansson, O. 2010. Cutaneous PGP 9.5 Distribution Patterns In Hidradenitis Suppurativa. Archives of Dermatological Research, 302,pp. 461-8. Available from:
  7. http://search.proquest.com/docview/521176635?accountid=17242(7 Juni 2014)..
  8. Shah, N. 2005. Hidradenitus suppurative: A treatment challenge. American Family Physician, 72(8), pp. 1547-1552. Available from
  9. http://www.aafp.org/afp/2005/1015/p1547.html#afp20051015p1547-t2(7 Juni 2014).

Popular posts from this blog

Reaksi Gigitan Serangga / Penyakit Kulit / Insect Bite

Reaksi gigitan serangga (insect bite reaction) adalah reaksi hipersensitivitas atau alergi pada kulit akibat gigitan (bukan terhadap sengatan/stings) dan kontak dengan serangga. Gigitan hewan serangga, misalnya oleh nyamuk, lalat, bugs, dan kutu, yang dapat menimbulkan reaksi peradangan yang bersifat lokal sampai sistemik. Masalah Kesehatan Reaksi Gigitan Serangga No. ICPC-2 : S12 Insect bite/sting No. ICD-10 : T63.4 Venom of other arthropods Tingkat Kemampuan : 4A Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang dengan keluhan gatal, rasa tidak nyaman, nyeri, kemerahan, nyeri tekan, hangat atau bengkak pada daerah tubuh yang digigit, umumnya tidak tertutup pakaian. Kebanyakan penderita datang sesaat setelah merasa digigit serangga, namun ada pula yang datang dengan delayed reaction, misalnya 10-14 hari setelah gigitan berlangsung. Keluhan kadang-kadang diikuti dengan reaksi sistemik gatal seluruh tubuh, urtikaria, dan angioedema, serta dapat berkembang me...

Vulnus / Muskuloskeletal

Kulit merupakan bagian tubuh yang paling luar yang berguna melindungi diri dari trauma luar serta masuknya benda asing. Apabila kulit terkena trauma, maka dapat menyebabkan luka/vulnus. Luka tersebut dapat merusak jaringan, sehingga terganggunya fungsi tubuh serta dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Keadaan terjadinya diskontinuitas jaringan, dapat ditimbulkan oleh berbagai macam akibat yaitu trauma, meliputi luka robek (laserasi), luka akibat gesekan (abrasi), luka akibat tarikan (avulsi), luka tembus (penetrasi), gigitan, luka bakar, dan pembedahan. Masalah Kesehatan Vulnus No. ICPC-2 : S.16 Bruise / Contusion S.17 Abration / Scratch / Blister S.18 Laceration / Cut No. ICD-10 : T14.1 Open wound of unspecified body region Tingkat Kemampuan: a. Vulnus laceratum, punctum : 4A b. Vulnus perforatum, penetratum : 3B Etiologi  Berdasarkan mekanisme trauma, terdiri dari : Trauma tajam yang menimbulkan luka terbuka, misalnya : 1. Vulnus Punctum (Luka Tusuk)  Pen...

Tetanus Neonatorum / Penyakit Saraf / Neurologi

Secara global hampir 14% penyebab kematian neonatus adalah tetanus neonatorum. Tetanus neonatorum bertanggung jawab terhadap 50% kematian neonatus yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Tetanus neonatorum dapat dicegah dengan imunisasi dan atau pelayanan persalinan dan pasca persalinan yang bersih. Beberapa penelitian komunitas di awal tahun 1970 dan 1980 di Negara Amerika Latin dan beberapa Negara berkembang menunjukkan kematian neonatal antara <5 sampai 60 kasus per 1000 kelahiran hidup. Di beberapa negara berkembang kematian tetanus neonatorum merupakan 23-72% dari total kematian neonatal. Masalah Kesehatan Tetanus Neonatorum No. ICPC-2 : N72 Tetanus No. ICD -10 : A33 Tetanus Neonatorum Tingkat Kemampuan : 3B Hasil Anamnesis ( Subjective ) Keluhan Gejala klinis timbul setelah toksin mencapai susunan saraf. Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-10 hari. Trismus akibat spasme otot masseter ditemukan pada lebih dari separuh penderit...

Disentri Basiler dan Disentri Amuba / Penyakit Digestive

Disentri merupakan tipe diare yang berbahaya dan seringkali menyebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri disentri basiler yang disebabkan oleh shigellosis dan amoeba (disentri amoeba). Masalah Kesehatan No. ICPC-2 : D70 Gastrointestinal infection No. ICD-10 : A06.0 Acute amoebic dysentery Tingkat Kemampuan : 4A Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Sakit perut terutama sebelah kiri dan buang air besar encer secara terus menerus bercampur lendir dan darah Muntah-muntah Sakit kepala Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya disebabkan oleh S. dysentriae dengan gejalanya timbul mendadak dan berat, dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong. Faktor Risiko Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan: Febris Nyeri perut pada penekanan di bagian sebelah kiri Terdapat...

Gastritis / Penyakit Digestive

Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau bahan iritan lain. Proses inflamasi dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal. Masalah Kesehatan Gastritis No ICPC-2 : D07 Dyspepsia/indigestion No ICD-10 : K29.7 Gastritis, unspecified Tingkat Kemampuan : 4A Hasil Anamnesis (Subjective) Keluhan Pasien datang ke dokter karena rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut bagian atas. Keluhan mereda atau memburuk bila diikuti dengan makan, mual, muntah dan kembung. Faktor Risiko Pola makan yang tidak baik: waktu makan terlambat, jenis makanan pedas, porsi makan yang besar Sering minum kopi dan teh Infeksi bakteri atau parasit Pengunaan obat analgetik dan steroid Usia lanjut Alkoholisme Stress Penyakit lainnya, seperti: penyakit refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS, Chron disease Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective) Pemeri...